Althofunnissa
 Mengenai ayat 37 dari surat Al-ahzab;
1-bukti pertama dari ayat ini yang menyangkal tudingan mereka bahwa Nabi memerintahkan kepada Zaid untuk menceraikan istrinya adalah (nasehat Nabi kepada Zaid untuk tetap mempertahankan pernikahanya ,walaupun Zaid telah mengeluh kepada beliau tentang keretakan rumah tangganya ); ’’pertahankanlah terus istrimu dan bertaqwalah kepada Allah.’’ Perlu kita ketahui bahwasanya nabi menikahi zainab adalah untuk menghilangkan tradisi anak angkat seperti anak sendiri, yang banyak terjadi terhadap Masyarakat jahiliyah pada waktu sebelum datangnya islam. Mereka menganggap tabu pernikahan seorang peria bekas dengan istri anak angkat dan menganggap pernikahan itu menjadi aib.
Maka Allah ingin menghentikan tudingan itu melalaui diri nabi muhamad, karena teladan yang beliau lakukan lebih diikuti oleh orang lain. apalagi masalah ini sudah sangat melekat dalam diri masyarakat jahiliyah dan sangat sulit untuk menghapusnya.

2-bukti yang kedua -yang menurut mereka adalah yang terpenting-mereka  menafsirkan firman allah ‘’sedang engkau menyembunyikan didalam hatimu apa yang akan dinyatakan oleh allah,  dan engkau takut kepada manusia, padahal allah lebih berhaq engkau takuti’’ dengan makna ; bahwa nabi mencintai zainab namun beliau takut di cerca oleh masyarakat sekitarnya.  Kalau saja seandainya nabi sendiri yang menulis al qur’an seperti yang disangkakan oleh perunding, atau seandainya beliau menyembunyikan sesuatu dari al qur’an, maka ayat ini tidak mungkin ada dalam al qur’an.
Jika kita cermati apa yang sebenarnya di sembunyikan oleh nabi? Tentu saja jawabannya ( disebutkan dalam kalimat selanjutnya ) yaitu; beliau menyembunyikan sesuatu yang akan dinyatakan oleh allah (yakni menjadi kenyataan ) bukankah pasti begitu lalu apa yang akan dinyatakan oleh allah apakah allah membuktikan bahwa sebenarnya nabi mencintai zainab? Tentu tidak, yang akhirnya menjadi kenyataan adalah pernikahan nabi dengan zainab dan mengakhiri hukum anak angkat yang dianggap seperti anak sendiri.
           Mereka yang mencela nabi, dan menganggap pernikahan yang dilakukan oleh beliau dengan bekas isteri anak angkatnya adalah sebuah penghianatan, sepertinya mereka harus meneklaah kitab suci merekaa terlebih dahulu karena disana tertera bagaimana yahuda sebeharhya tidak menikah dengan isteri anaknya. 
Kesimpulan;
Sebenarnya, hujatan sinis Johannes kepada Al qur’an disebabkan kebenciannya terhadap Al qu’ran. Ketika menunjukan muhamad berperilaku tidak senonoh karena mengawini isteri anak angkat , Johannes merujuk kepada surat  Al ahzab :37, yang artinya;
‘’Dan (ingatlah), ketika kamu berkata kepada orang yang Allah telah melimpahkan nikmat kepadanya dan kamu (juga) telah memberi nikmat kepadanya: "Tahanlah terus isterimu dan bertakwalah kepada Allah", sedang kamu menyembunyikan di dalam hatimu apa yang Allah akan menyatakannya, dan kamu takut kepada manusia, sedang Allah-lah yang lebih berhak untuk kamu takuti Maka tatkala Zaid telah mengakhiri keperluan terhadap istrinya (menceraikannya), Kami kawinkan kamu dengan dia[1] supaya tidak ada keberatan bagi orang mukmin untuk (mengawini) isteri-isteri anak-anak angkat mereka, apabila anak-anak angkat itu telah menyelesaikan keperluannya daripada isterinya[2] Dan adalah ketetapan Allah itu pasti terjadi. ‘’
       Pemahaman Johannes terhadap ayat itu sangat fragmatif karena ia tidak melihat pra (sibaq’),paska(lihaq’)dan suasana (siyaq),  ketika ayat tersebut diturunkan. Sebelum ayat tersebut ayat 36 Al ahzab menyebutkan ; ’’ Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata. ‘’
       Menurut ibn’ Abbas, Mujahid, Qotadah dan Muqatil ibn hayyan , ayat tersebut diturunkan ketika rasulullah melamarkan zainab binti jahsh untuk zayd ibn’ haritsah. Mula-mulanya zainab dan saudaranya menolak. Mungkin penolakan zainab disebabkan status social yang lebih tinggi. Zainab adaalah cucu’ abdul muthalib seorang tokoh quraisy yang terkemuka, sedang zayd hanyalah seorang hamba sahaya yang di medekakan. Namun disebabkan allah dan rasul-nya memerintahkan ,maka pada akhirnya zainab menerima. [3] Ayat tersebut di atas diakhiri dengan;’’ Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.’’
      Jadi, menurut pandangan ibnu Abbas, Mujahid, Qatadah, Muqatil ibnu Hayyan, Rasululah melamarkan zainab untuk zayd,  seandainya tuduhan Johannes itu benar, maka Rasulullah tidak mungkin menawarkan zainab untuk zayd. Rasulullah akan melamar zainab untuk dirinya sendiri.  Sebagai seorang Rasul tentu lamarannya akan diterima oleh zainab dengan senang hati. Namun,  Rasulullah tidak melakukan hal tersebut, ini menunjukan bahwasanya Rasulullah tidak memiliki keinginan tersembunyi untuk menikahi zainab.
        Selain mengabaikan ayat 36 dari surat  Al ahzab, Johannes juga mengabaikan konteks ayat 37 yang menunjukan bahwasanya zayd menerima anugrah nikmat dari Allah dan Rasul-nya . Rasulullah memerdekakan zayd yang sebelumnya bersetatus budak, bukan hanya itu saja bahkan Rasulullah menganggap zayd sebagai ank angkat. Rasululllah tetap mempertahankan nama ayah kandung yaitu zayd bin haritsah, bukan zayd bin Muhammad. tujuannya, supaya seorang anak tpdak melupakan nama ayah kandungnnya  dan Rasulullah menggelarinya al mahbub.



[1] ]. Maksudnya: setelah habis idahnya.
     .Yang dimaksud dengan orang yang Allah telah melimpahkan nikmat kepadanya ialah Zaid bin Haritsah. Allah telah melimpahkan nikmat kepadanya dengan memberi taufik masuk Islam. Nabi Muhammadpun telah memberi nikmat kepadanya dengan memerdekakan kaumnya dan mengangkatnya menjadi anak. Ayat ini memberikan pengertian bahwa orang boleh mengawini bekas isteri anak angkatnya
lihat tafsir ibnu katsir, jilid;4


|