Althofunnissa



nasihat adalah sebuah kejernihan yang sewajarnya hadir dalam kehidupan masyarakat Islam. Terkhusus bagi wanita muslimah yang hidup di zaman ini. Sapaan nasihat adalah penyejuk yang menyegarkan langkah dalam menuju ridha Yang Maharahmah, Allah tabaraka ta'ala.
  1. Wanita muslimah meyakini bahwa Allah adalah Rabbnya, Muhammad adalah nabinya, dan Islam adalah agamanya, dan menampakkan jejak keimanan dalam perkataan, amalan dan keyakinan. Maka dia selalu menjauhi murka Allah, takut akan pedihnya azab Allah dan balasan akibat menyelisihi perintah-Nya.
  2. Wanita muslimah selalu menjaga shalat-shalat wajibnya, berwudlu, menjaga kekhusyukan dan ketepatan waktu melaksanakan shalat. Janganlah menyibukkan diri dengan aktivitas yang lain ketika datang waktu shalat. Meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat yang memalingkan dari ibadah kepada Allah. Dia pun menampakkan atsar (bekas) shalatnya dalam peri kehidupan, karena sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar, shalat adalah penjaga terbesar dari kemaksiatan.
  3. Wanita muslimah selalu menjaga hijabnya (mengenakan jilbab) merasa mulia dengan hal tersebut dan dia tidak keluar dari rumah kecuali dalam kondisi berjilbab, dengan jilbab tersebut bertujuan agar Allah menjaganya. Dia pun bersyukur kepada Allah yang telah memuliakan, menjaga, dan mengehendaki terjaganya kesuciannya dengan jilbab.

"Wahai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anakmu, dan wanita beriman agar mereka mengenakan jilbab-jilbab mereka." (QS. Al-Ahzaab: 59)
  1. Wanita muslimah selalu menaati suaminya, bersikap lembut, cinta, mengajaknya kepada kebaikan, menasihati dan menghibur suaminya. Dia tidak mengeraskan suara dan kasar dalam berbicara kepada suaminya. Rasulullah bersabda, "Apabila seorang wanita menjaga shalat lima waktunya, berpuasa di bulan ramadhan, menjaga kehormatannya, dan menaati suaminya niscaya dia akan masuk surga." (Hadis Shahih jami')
  2. Wanita muslimah senantiasa mendidik putranya untuk taat kepada Allah, mengajarinya dengan aqidah yang benar, menanamkan kecintaan kepada Allah dan rasul-Nya serta menjauhi maksiat dan akhlak yang buruk. Firman Allah,
"Wahai orang-orang yang beriman jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka." (QS. At-Tahrim: 6)
  1. Wanita muslimah tidak berdua-duaan dengan laki-laki yang bukan mahramnya. Sabda Rasulullah,
"Barangsiapa wanita yang berdua-duaan dengan laki-laki, maka setan yang ke-3 nya."
Dan wanita muslimah tidak bepergian jauh kecuali untuk keperluan yang tidak bisa ditinggalkan dan disertai mahram dengan berjilbab.
  1. Wanita muslimah tidak berpenampilan atau berdandan seperti kaum laki-laki. Sabda Rasulullah,
"Allah melaknat laki-laki yang menyerupai wanita dan wanita yang menyerupai laki-laki." (Hadis shahih)
Wanita muslimah juga tidak meniru orang-orang kafir dalam kekhususan dan kebiasaan mereka,
"Barangsiapa yang bertasyabuh (menyerupai) suatu kaum, maka ia termasuk golongan kaum tersebut." (Hadis Shahih)
  1. Wanita muslimah adalah da'iyah (orang yang berdakwah) dibarisan kaum wanita dengan menggunakan perkataan yang baik melalui jalan menziarahi tetangganya, menyambung persaudaraan; melalui telpon, memberikan buku-buku, dan kaset-kaset Islam. Ia pun beramal dengan apa yang ia ucapkan dan bersemangat dalam menghindarkan diri dari adzab Allah,
"Kalau Allah menghidayahi seseorang melalui perantara kamu, maka hal tersebut lebih baik bagimu dari pada binatang ternak yang merah (harta dunia yang banyak)." (HR. bukhari dan muslim).
  1. Wanita muslimah menjaga hatinya dari kerancuan dan hawa nafsu, menjaga pandangannya dari pandangan-pandangan yang haram, menjaga telinganya dari hal-hal yang melalaikan dari dzikrullah, ini semua yang dinamakan dengan takwa,
"Malulah terhadap Allah dengan sebenar-benarnya, barangsiapa yang malu dengan sebenar-benarnya maka jagalah kepalanya dan apa yang ada di dalamnya, dan jagalah perutnya serta yang ada di dalamnya, ingatlah kematian dan musibah, barangsiapa yang menghendaki akhirat hendaknya ia meninggalkan (tidak cinta) perhiasan-perhiasan dunia, barangsiapa berbuat demikian niscaya sikap malunya kepada Allah benar." (Hadis Shahih Jami')
  1. Wanita muslimah tidak menyia-nyiakan waktu siang maupun malamnya untuk perbuatan yang tidak ada gunanya, atau melewatkan masa mudanya hilang dengan percuma,
"Tinggalkanlah mereka yang menjadikan agamanya sebagai permainan dan kesia-siaan." (QS. Al-An'am: 70)

Allah berfirman tentang orang yang menyia-nyiakan umurnya,
"Alangkah meruginya diri kami dari apa yang telah kami tinggakkan."
(QS. Al-An'am: 31)
Wahai muslimah! Laksanakanlah nasihat-nasihat ini niscaya engkau akan selamat di dunia dan di akhirat.

| |
Althofunnissa




Diperhatikan merupakan keniscayaan. Seringkali kita tidak sadar dan menyadarkan diri bahwa tiap saat diperhatikan. Baik oleh makhluk ghaib maupun zhahir. Malaikat yang tidak pernah lengah dengan tugasnya, bani syaithon yang suka melena-lenakan, dan manusia yang suka mencari kelenaan.
Sudah sunnatullah, manusia dengan kealpaannya tak akan bisa berdiri sendiri memperbaiki diri. Dengan demikian justru bentuk perhatian ini merupakan kenikmatan. Nikmat bagaimana menyadarkan diri agar tidak menampakkan aib sendiri, nikmat untuk menjaga akhlaq agar tetap santun lagi menyenangkan sesama, nikmat untuk menahan kelepasan marah dan bercanda. Nikmat itu hadir dengan hadirnya malu, indikasi keimanan.
Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda:
الْإِيمَانُ بِضْعٌ وَسِتُّونَ شُعْبَةً وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنْ الْإِيمَانِ
“Iman memiliki lebih dari enam puluh cabang, dan malu adalah bagian dari iman”. (HR. Al-Bukhari no. 8 dan Muslim no. 50)
Abu Mas’ud radhiallahu anhu berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
إِنَّ مِمَّا أَدْرَكَ النَّاسُ مِنْ كَلَامِ النُّبُوَّةِ الْأُولَى إِذَا لَمْ تَسْتَحْيِ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ
“Sesungguhnya di antara ucapan yang diperoleh manusia dari kenabian yang pertama adalah: Jika kamu tidak mempunyai rasa malu, maka berbuatlah sesukamu.” (HR. Al-Bukhari no. 6120)
Mungkin sedikit sekali yang yakin bahwa ada orang lain yang rela memperhatikannya. Entah kerelaan itu dengan menyimak baik setiap ulasan, status, komentar maupun menyisir tiap profil sosial media yang dibuatnya. Efek terlalu kehilangan kesadaran atau innocent tingkat tinggi ini dapat menyebabkan tanpa sadar tanpa urgensitas pun menorehkan jejak, meski bersifat mudharat. Bisa jadi juga sebagian dengan keyakinan bertegangan tinggi merasa sebagai pusat perhatian sehingga kerap kali membohongi kemampuan diri supaya naik gengsi dalam komunitas. Tak ada keburukan dalam keyakinan merasa diperhatikan dengan dosis tepat.
Sederhana saja, yakin hidup di bumi dengan jutaan manusia maka berhati-hati agar tidak menjadi berlebihan dan terlalu kekurangan, tapi pertengahan. Bagaimana mengelola tingkat kesadaran secara kemanusiaan.
Manusia yang berhawa nafsu dan berkeimanan menjadikannya suka bersembunyi ketika bermaksiat, menjadi salah tingkah saat disergap, sampai tingkatan bertobat dan selamat memiliki keunikan tersendiri dimana syaithon pun diperintahkan bersujud sebagai tanda hormat terhadapnya dan bukti ketundukan padaNya.
“Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketaqwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan Sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.“ (QS. Asy-Syams: 8-10)
Semakin ia mengoptimalkan ketakwaan dan meminimalkan fasiknya, semakin ia selamat. Ketika berbuat tidak perlu menunggu gertakan, sanjungan dan segala rentetan kenikmatan pendengaran akan karya cipta yang ia selesaikan. Cukup yakin orang lain mau lihat atau tidak, Allah pasti melihat; orang lain perlu merespon baik berupa pujian maupun makian atau tidak, Allah pasti merespon dengan baik. Sehingga tidak perlu tersiksa harus bagaimana mendapatkan ridha orang lain, sanjungan orang lain, malu dengan kritikan, meradang dengan nasihat dan tidak perlu memaksakan tampil sempurna karena hakikatnya juga penuh dengan cela.
Mengalir saja sebagai manusia yang berkarakter. Malu berbuat keburukan dan senang berbuat kebajikan. Menyesali perbuatan jahat dan mensyukuri kebaikan yang diizinkan melaluinya. Maka tidak perlu bergalau ria di dunia maya dan keras kepala di dunia nyata. Tidak perlu adu syaraf dalam menyampaikan pendapat dan nasihat. Malu lah pada rumput yang bergoyang. Goyangnya rumput tidak membuat risih belalang, tapi goyahnya kader dakwah bisa merusak peradaban!
Hadanallahu waiyyakum ajma’in, wallahu a’lam bi showab. 

| |