Diperhatikan
merupakan keniscayaan. Seringkali kita tidak sadar dan menyadarkan diri bahwa
tiap saat diperhatikan. Baik oleh makhluk ghaib maupun zhahir. Malaikat yang
tidak pernah lengah dengan tugasnya, bani syaithon yang suka melena-lenakan,
dan manusia yang suka mencari kelenaan.
Sudah
sunnatullah, manusia dengan kealpaannya tak akan bisa berdiri sendiri memperbaiki
diri. Dengan demikian justru bentuk perhatian ini merupakan kenikmatan. Nikmat
bagaimana menyadarkan diri agar tidak menampakkan aib sendiri, nikmat untuk
menjaga akhlaq agar tetap santun lagi menyenangkan sesama, nikmat untuk menahan
kelepasan marah dan bercanda. Nikmat itu hadir dengan hadirnya malu, indikasi
keimanan.
Dari
Abu Hurairah radhiallahu anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau
bersabda:
الْإِيمَانُ
بِضْعٌ وَسِتُّونَ شُعْبَةً وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنْ الْإِيمَانِ
“Iman memiliki lebih dari enam puluh cabang, dan malu adalah
bagian dari iman”. (HR. Al-Bukhari no. 8 dan Muslim no.
50)Abu Mas’ud radhiallahu anhu berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
إِنَّ
مِمَّا أَدْرَكَ النَّاسُ مِنْ كَلَامِ النُّبُوَّةِ الْأُولَى إِذَا لَمْ
تَسْتَحْيِ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ
“Sesungguhnya di antara ucapan yang diperoleh manusia dari
kenabian yang pertama adalah: Jika kamu tidak mempunyai rasa malu, maka
berbuatlah sesukamu.” (HR. Al-Bukhari no. 6120)
Mungkin
sedikit sekali yang yakin bahwa ada orang lain yang rela memperhatikannya.
Entah kerelaan itu dengan menyimak baik setiap ulasan, status, komentar
maupun menyisir tiap profil sosial media yang dibuatnya. Efek terlalu
kehilangan kesadaran atau innocent tingkat tinggi ini dapat
menyebabkan tanpa sadar tanpa urgensitas pun menorehkan jejak, meski
bersifat mudharat. Bisa jadi juga sebagian dengan keyakinan bertegangan tinggi
merasa sebagai pusat perhatian sehingga kerap kali membohongi kemampuan diri
supaya naik gengsi dalam komunitas. Tak ada keburukan dalam keyakinan merasa
diperhatikan dengan dosis tepat.
Sederhana
saja, yakin hidup di bumi dengan jutaan manusia maka berhati-hati agar tidak
menjadi berlebihan dan terlalu kekurangan, tapi pertengahan. Bagaimana
mengelola tingkat kesadaran secara kemanusiaan.
Manusia
yang berhawa nafsu dan berkeimanan menjadikannya suka bersembunyi ketika
bermaksiat, menjadi salah tingkah saat disergap, sampai tingkatan bertobat dan
selamat memiliki keunikan tersendiri dimana syaithon pun diperintahkan bersujud
sebagai tanda hormat terhadapnya dan bukti ketundukan padaNya.
“Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan
dan ketaqwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan
Sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.“ (QS. Asy-Syams: 8-10)
Semakin
ia mengoptimalkan ketakwaan dan meminimalkan fasiknya, semakin ia selamat.
Ketika berbuat tidak perlu menunggu gertakan, sanjungan dan segala rentetan
kenikmatan pendengaran akan karya cipta yang ia selesaikan. Cukup yakin orang
lain mau lihat atau tidak, Allah pasti melihat; orang lain perlu merespon
baik berupa pujian maupun makian atau tidak, Allah pasti merespon
dengan baik. Sehingga tidak perlu tersiksa harus bagaimana mendapatkan ridha
orang lain, sanjungan orang lain, malu dengan kritikan, meradang dengan nasihat
dan tidak perlu memaksakan tampil sempurna karena hakikatnya juga penuh dengan
cela.
Mengalir
saja sebagai manusia yang berkarakter. Malu berbuat keburukan dan senang
berbuat kebajikan. Menyesali perbuatan jahat dan mensyukuri kebaikan yang
diizinkan melaluinya. Maka tidak perlu bergalau ria di dunia maya dan keras
kepala di dunia nyata. Tidak perlu adu syaraf dalam menyampaikan pendapat dan
nasihat. Malu lah pada rumput yang bergoyang. Goyangnya rumput tidak membuat
risih belalang, tapi goyahnya kader dakwah bisa merusak peradaban!
Hadanallahu waiyyakum ajma’in, wallahu a’lam bi
showab.


