Kewajiban
Iqamatuddin
Para
ulama menjelaskan bahwa kewajiban kaum muslimin setelah wafatnya Rasulullah
Shalllallahu 'Alaihi wa Sallam ada dua hal:
a) Hifzhuddin (menjaga kemurnian ajaran dan
risalah agama yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam) dari
segala kontaminasi dan penyimpangan yang akan mengotorinya. Baik dalam perkara
aqidahnya, ibadahnya, syariahnya, akhlaknya, serta yang lainnya.
b) Siyasatuddunya biddin, ini adalah kewajiban
kedua bagi kaum muslimin, yaitu mengatur dunia ini dengan syariah dien ini.
Sehingga
kewajiban yang pertama tidak akan sempurna kecuali dengan yang kedua begipula
sebaliknya. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
شَرَعَ
لَكُمْ مِنَ الدِّينِ مَا وَصَّى بِهِ نُوحًا وَالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ
وَمَا وَصَّيْنَا بِهِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَى وَعِيسَى أَنْ أَقِيمُوا الدِّينَ
وَلَا تَتَفَرَّقُوا فِيهِ كَبُرَ عَلَى الْمُشْرِكِينَ مَا تَدْعُوهُمْ إِلَيْهِ
اللَّهُ يَجْتَبِي إِلَيْهِ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي إِلَيْهِ مَنْ يُنِيبُ
"Dia
(Allah) telah mensyariakan kepadamu agama yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh
dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu (Muhammad) dan apa yang telah Kami
wasiatkan kepada Ibrahim, Musa, dan Isa, yaitu tegakkanlah agama (keimanan dan
ketakwaan) dan janganlah kamu berpecah-belah di dalamnya. Sangat berat bagi
orang-orang musyrik (untuk mengikuti) agama yang kamu serukan kepada mereka.
Allah memilih orang yang Dia kehendaki kepada agama Tauhid dan member petunjuk
kepada (agama)-Nya bagi orang yang kembali (kepada-Nya)." (QS. Asy-Syura:
13)
Perintah
menegakkan ad-dien telah Allah perintahkan kepada para Nabi sebelum Rasulullah,
begitupula kepada Nabi-Nya Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, dan
kewajiban itu terus berada di pundak kaum muslimin hingga ad-dien ini
semata-mata hanya milik Allah.
Allah
berfirman:
وَقَاتِلُوهُمْ
حَتَّى لَا تَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ لِلَّهِ فَإِنِ انْتَهَوْا فَلَا
عُدْوَانَ إِلَّا عَلَى الظَّالِمِين
"Dan
perangilah mereka itu sampai tidak ada lagi fitnah, dan agama hanya bagi Allah
semata. Jika mereka berhenti, maka tidak ada (lagi) permusuhan, kecuali
terhadap orang-orang zhalim." (QS. Al-Baqarah: 193)
Dan
firman-Nya:
قَاتِلُوا
الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلَا بِالْيَوْمِ الْآَخِرِ وَلَا
يُحَرِّمُونَ مَا حَرَّمَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَلَا يَدِينُونَ دِينَ الْحَقِّ
مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ حَتَّى يُعْطُوا الْجِزْيَةَ عَنْ يَدٍ وَهُمْ
صَاغِرُونَ
"Perangilah
orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian, mereka yang
tidak mengharamkan apa yang telah diharamkan Allah dan Rasul-Nya dan mereka yang
tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang
telah diberikan kitab hingga mereka membayar jizyah (pajak) dengan patuh sedang
mereka dalam keadaan tunduk." (QS. At-Taubah: 29)
Peran Muslimah Dalam Iqamatuddin
Muram
binti Shalih Al-Athiyyah dalam bukunya yang berjudul "Daurul Mar'ah fi
Nushratiddin" (Jihad Seorang Wanita Dalam Membela Islam) menjelaskan
panjang lebar tentang peran seorang muslimah dalam Iqamatuddin.
A. Di Sekolahan
Seorang Muslimah
memiliki peran penting dalam Iqamatuddin pada lembaga-lembaga pendidikan, baik
forman maupun informal, apakah statusnya sebagai seorang guru atau
mahasiswi/pelajar.
Sebagai
seorang guru (tenaga pendidik), peran muslimah sangat besar dalam mendidik,
membimbing, mengajar para peserta didik kepada apa-apa yang mesti diketahui
oleh setiap muslim.
Lakukanlah
hal-hal berikut ini:
1. Jadilah Anda seorang sosok qudwah (suri
tauladan) yang terbaik bagi anak-anak didik Anda. Karena, ada pepatah mengatakan,
'bila guru kencing berdiri, maka anak akan kencing berlari.'
Cubalah
Anda lihat di sekeliling Anda, berapa banyak lembaga pendidikan yang para
gurunya tidak memberikan contoh yang terbaik bagi peserta didiknya. Berapa banyak
guru muslimah yang mengumbar auratnya di hadapan para peserta didiknya,
berdandan (tabarruj) dengan dandanan yang menimbulkan fitnah bagi para peserta
didiknya (apalagi jika peserta didiknya adalah para kaum pria baligh) yang
telah mengenal mana yang baik dan buruk.
2. Senantiasalah memberi nasihat kepada mereka.
Dan di sela-sela kesibukan Anda dalam mengajar, jangan lupa untuk memberikan
teguran, nasihat, dakwah kepada mereka.
Cubalah
Anda lihat di sekeling Anda, berapa banyak lembaga pendidikan yang para gurunya
enggan untuk berdakwah kepada para peserta didiknya. Mereka biarkan anak didik
mereka berpakaian yang mengumbar aurat, pacaran, ikhtilat, merokok, tidak
mengingatkan shalat mereka, tidak meluruskan aqidah dan akhlak mereka.
Jadilah
mereka para guru yang sengsara. Guru yang hanya mengejar materi dan dunia
dengan melupakan kewajiban agama mereka.
Bahkan,
wal'iyadzubillah tidak sedikit para guru muslimah yang 'phobi' terhadap dakwah
Islam. Sinis bila melihat ada peseta didiknya yang alimah, shalihah, dan
berakhlakul karimah.
3. Berdakwah kepada sesama pengajar. Hal penting yang harus dilakukan
oleh seorang guru muslimah dalam iqamatuddin adalah berdakwah kepada sesama
tenaga pengajar dan teman-temannya.
Terkadang
'perasaan pekeweuh' membuat kita lalai dalam berdakwah. Tidak sedikit
teman-teman sesama pengajar yang melakukan penyimpangan dan kemaksiatan, maka
posisikan diri Anda sebagai juru dakwah bagi teman-teman Anda. Minimal
mengingkari kemaksiatan mereka, bukan justru 'karena pekeweuh' akhirnya Anda
pun latah mengikuti mereka.
Dalam
Islam, berjabat tangan dengan non mahram adalah haram, 'perasaan pekeweuh'
dengan atasan Anda, sering kali menjadi alasan untuk berjabat tangan mereka.
Wal'iyadzubillah.
Padahal,
jika Anda bersikap tegas dengan tidak menjabat tanganya, Anda akan mulia di
hadapan Allah dan juga mereka. Dan masih banyak perkara lainnya.
B. Di Rumah Anda.
Di
rumah, Anda adalah seorang istri plus seorang ibu bagi anak-anak Anda. Peran
Anda sebagai juru dakwah sangat penting sebagai Madrasah Pertama bagi anak-anak
Anda, yang dari rahim rumah Anda akan lahir generasi-generasi shalih dan
shalihah, mujahid dan mujahidah.
C. Di tempat-tempat pertemuan, rapat, arisan, dan
lainnya.
Begitupula
pada tempat-tempat pertemuan, rapat, arisan, dan lainnya, sebagai muslimah
gunakan kesempatan itu membantu agama Allah ini. Minimal dengan sikap dan
penampilan Anda, atau apa yang disebut dengan da’wah bil haal.
Wallahu
A'lamu bish Shawab.
Dikutip
dari majalahAnnajma

