الْخَبيثاتُ لِلْخَبيثينَ وَ
الْخَبيثُونَ لِلْخَبيثاتِ وَ الطَّيِّباتُ لِلطَّيِّبينَ وَ الطَّيِّبُون
أُولئِكَ مُبَرَّؤُونَ مِمَّا يَقُولُونَ لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَ رِزْقٌ كَريمٌ
َ “Wanita-wanita yang keji adalah untuk
laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang
keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan
laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula),.” Adapun orang-orang yang kena tuduh itu
bersihlah mereka dari apa yang diperkatakan orang-orang itu. Untuk mereka
adalah ampunan dan rezeki yang mulia.
(An Nuur: 26)
Berangkat dari
pemahaman diatas, tentu saja kita bertanya-tanya apakah yang dimaksud baik
disini? Atau keji? Apakah kita dapat menentukan sesuatu itu baik atau tidak
baik?Kalau kita cermati ayat diatas merupakan satu paket ayat yang bersambung
,tidak hanya putus pada kalimat “untuk wanita yang baik”tetapi masih berlanjut
dengan bahasan tuduhan , juga ampunan. Artinya ayat ini sebenarnya diturunkan
dalam konteks tertentu.
jika dilihat dari
konteks ayat ini, ada dua penafsiran para ulama terhadap ayat ini yaitu tentang
arti kata “wanita yang baik” dan juga “ucapan yang baik”Sehingga dapat juga
diartikan sebagai begini, Perkara-perkara (ucapan) yang kotor adalah dari
orang-orang yang kotor, dan orang-orang yang kotor adalah untuk perkara-perkara
yang kotor. Sedang perkara (ucapan) yang baik adalah dari orang baik-baik, dan
orang baik-baik menimbulkan perkara yang baik pula. Mereka (yang dituduh) itu
bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka
ampunan dan rizki yang mulia (surga).”
Kata khabiitsat biasa
dipakai untuk makna ucapan yang kotor (keji) ,juga kata thayyibaat dalam Quran
diartikan sebagai kalimat yang baik.Begitupun pada ayat ini berlaku bahwa kata
khabiitsat dan thayyibaat, Dalam tafsir thabari kata khobisat dan thayibat di
tafsirkan dengan perkataan keji dan baik,. Milik kaum muslimin perkataan yang
baik sedang bagi kaum kafir perkataan
yang keji.
Jika ditinjau dari
asbabu nuzulnya, Ayat 26 inilah merupakan penutup dari ayat wahyu membersihkan
isteri Nabi, Aisyah dari tuduhan keji itu. Di dalam ayat ini diberikan pedoman
hidup bagi setiap orang yang beriman. Tuduhan keji adalah perbuatan yang amat
keji hanya akan timbul dari pada orang yang keji pula.Memang orang-¬orang yang
kotorlah yang menimbulkan perbuatan kotor. Adapun ucapan-ucapan yang baik
adalah keluar dari orang-orang yang baik pula, dan memang¬lah orang baik yang
sanggup menciptakan perkara baik. Orang kotor tidak menghasilkan yang bersih,
dan orang baik tidaklah akan menghasilkan yang kotor,dan ini berlaku secara
umum.
Di akhir ayat 26 Allah menutup
perkara tuduhan ini dengan ucapan bersih dari yang dituduhkan yaitu bahwa
sekalian orang yang difitnah itu adalah bersih belaka dari segala tuduhan,
mereka tidak bersalah sama sekali. Maka makna ayat diatas juga sangat tepat
bahwa orang yang baik tidak akan menyebarkan fitnah,fitnah hanya keluar dari
orang –orang yang berhati dengki,kotor, tidak bersih.Orang yang baik,dia akan
tetap bersih,karena kebersihan hatinya.
Pembahasan kedua yaitu
tentang maksud ayat diatas yaitu “wanita yang baik” dan “wanita yang
keji”.Dalam hal ini terjemahan Depag menggunakan arti wanita yang baik dan
pemahaman ini berangkat dari para ulama yang menyatakan bahwa aisyah menrupakan
wanita yang baik-baik,karena konteks ayat tersebut turun satu paket yaitu ayat
11-26 dengan ayat sebelumnya tentang seseorang menuduh wanita yang baik-baik
berzina.Maka jika diartikan begitu sesuai dengan pernyataan diatas.
Ayat diatas memang
bukan janji Allah tentang otomatisnya orang yang baik akan mendapat pasangan
yang baik,Ayat tersebut secara umum memberitahukan kita bahwa orang –orang yang
baik akan mendapat pasangan yang baik juga,dengan berusaha mengondiskan diri
menjadi baik dan juga berikhtiar mencari pasangan yang baik.Namun baik dalam
hal ini,pun secara logika dapat diartikan bermacam-macam.Secara khusus Allah
membuat perumpamaan bagaimana seorang yang baik mendapatkan pasangan yang tidak
baik.Hal ini dapat kita lihat pada kisah nabi Nuh, Nabi Luth,dan Juga Firaun. Allah
menakdirkan istri kedua nabi yang mulia ini justru tidak menerima dakwah suami
mereka. padahal keduanya adalah belahan jiwa yang saling melengkapi, saling
menemani dan mendampingi. kedua istri ini mengkhianati suami mereka dalam
perkara agama, karena keduanya beragama dengan selain agama yang diserukan oleh
suami mereka. keduanya enggan menerima ajakan kepada keimanan bahkan tidak
membenarkan risalah yang dibawa suami mereka.
Dalam kaidah ushul
ditetapkan bahwa kekhususan sesuatu tidak dapat diterima dan ditetapkan
berdasarkan perkiraan,tetapi harus didukung dengan dalil.Dalam nash ini tidak
ada dalil tentang kekhususan ayat ini.Ayat Quran bermakna umum,artinya berlaku
juga untuk umatnya kecuali ada dalil tentang kekhususan ( bukan berarti
kekhususan ini ada kata-kata ‘khusus’ contohnya pada wajibnya hijab hanya
khusus pada istri nabi walalupun tidak ada kata khusus,dan tidak ada alasan
untuk meniru-niru kekhususan hijab bagi istri nabi).
Pada kenyataan yang terjadi, ternyata, ada
laki-laki yang baik mendapat isteri yang keji, begitupula sebaliknya. Maka
memahami ayat tersebut sebagai sebuah perintah, untuk menciptakan kondisi yang
baik-baik untuk yang baik-baik, adalah sebuah keharusan. Kalau tidak, maka
kondisi terbalik malah yang akan terjadi. Ayat tersebut bukanlah merupakan
janji Allah kpd manusia yg baik akan ditakdirkan dgn pasangan yg baik.
Sebaliknya ayat tersebut merupakan peringatan agar umat islam memilih manusia yg
baik uNtuk dijadikan pasangan hidup.
Proses mendidik hati
bukan mudah seperti menenun kain yang indah, tapi perlukan kesabaran dan
mujahadah.Ucapan yang baik akan keluar dari orang yang baik,ucapan yang keji
akan keluar dari orang yang keji pula.Untuk mendapatkan sesuatu yang baik
memang kita harus memperbaiki diri lebih baik. Tugas seorang hamba ke atas
dirinya hanya membaiki dirinya sendiri tanpa terlalu memikirkan pengakhiran
mendapat yang soleh ataupun sebaliknya. Kerana Allah tidak akan menzalimi orang
yang sentiasa berusaha ke arah kebaikan.
Bila
ingin mendapatkan jodoh yang baik, maka perbaikilah diri. Hiduplah sesuai
dengan ajaran Islam dan Sunnah Nabi-Nya. Jadilah wanita yang shalihah, karena
insya Allah dengan itu engkau kan bahagia dan ditemukan dengan teman istimewa
yang shalih juga, jangan hawatir (galau) dengan itu semua. Karena takdir Allah
itu indah.. Untuk saudariku yang telah Allah pertemukan dengan teman istimewa
yang menjadi teka teki selama ini, semoga sama sama selalu untukmemperbaiki diri.
Saudariku! Menjadi pribadi yang dirindu jannah, menjadi sebaik-baik perhiasan
terindah.
Maroji' :
Tafsir ibnu katsir
Tafsir Athobari
.

