Althofunnissa

Terikat,
Nasib_masa depanku tergenggam di tanganmu
Aku punya hak
Tanpa bisa kugunakan
Karena apa yang kuinginkan
Adalah apa yang nyaris kau sebut
Kemustahilan
Aku adalah aku yang ketika ada
kau acuhkan
dan aku adalah aku yang ketika ingin berbelok
kau tahan
aku tau banyaknya badai di luar sana
tapi yang kuinginkan hanya
membuat keputusan
yang akan melajukanku
pada harap yang terpendam
entah berkelok, entah curam
mimpi, berapa bintangku yang mati?
Kau tak pernah memaksa, aku mengerti
Tapi aku pun terlalu pengecut
Untuk memilih mimpiku sendiri
Harap,
Ketika bertemu dengan pencipta
Menyela dalam diam
Ini aku, sang pemimpi
Yang terlalu pengecut untuk bangun
Karna tak ingin melukaimu,
Hanya ketika siluet ada
Rasaku yang menjelma
Menghentak dada
Lebih keras dari seharusnya
Tidak boleh ada galau
Karna hidupku adalah pasti
Menangis sajalah!
Biar jingga tau kau utuh menjingga
Bukannya memucat tak tentu arah
Meniupkan rona ke tebing yang menanti
Tertawa sajalah!
Karna jingga tau kau slalu jingga
Tak pernah pucat menyisir langkah
Menghirup sesaknya keniscayaan
hingga akhir berlinang lelah
Ketika lelah dan Tanya bertemu
Yang ada hanyalah kebisuan
Yang bergemerisik tajam
Menjembatni hati kita
Dalam tatap yang terluka
Kau berbincang dalam anganmu
Menanyakan luka
Yang ditorehnya bertahun-tahun
Tanpa penjelasan
Kau menghujaninya dengan teriakan
Memaki-maki dalam
Keabu-abuan hidupmu
Yang digoreskannya kelam
Dalam duniamu,
Yang hanya ada aku dan kamu
Atau kita yang memudar
Kau mengikatnya dalam
Pandora yang tak kau tau nmanya
Ia hidup dalam utopiamu
Tanpa sekalipun berani kau tanyai
s.i.a.pa. k.a.m.u?
dan kenapa tak henti usik aku?!
Kerinduan buncahi sepi
Lelapnya lelah yang usik aku
Berharap saja tak jatuhkan bidak
Yang kujaga langkahnya untukmu
Suara dalam hujan
Ada yang tau bagaimana rasanya merindu?
Aku tau,
Saat kau, berada dalam keramaian
Tapi yang kau ingat justru ia
Atau kau
Berbaring di lantai
Mendengarkan hujan
kepalamu kosong
tapi penamu tak bisa berhenti mengingatnya
menyatu dalam tumpukan salju
penat berkejaran dengan sang waktu
matamu tajam membisikkan sebait lagu

sunyi…
hanya wajahmu yang bisa kubaca
menudingku dengan penuh kepedihan
bertanya tentang kisahmu yang mengusang
meangapa begitu cepat rasaku menghilang
Disinilah angkuh menjulang
Tebar nestapa sendu dalam mendung yang gelisah
Sejujurnya tak ada dendam yang berkarang
Tak pula mimpi buruk memaksa berbayang
Lihatlah luka yang sudah buat siapapun terluka
Fikirlah, berapa banyak luka menganga
Sampai kapan kau rela terus terluka?
-ntah-
Slalu aku…
Sakiti kamu
Hinga waktu
merampasmu dariku
-secret oriental-
Adalah kisah, sejarah yang tergolek lesu
Pada sudut jiwamu, denyut yang membisu
Telah tersesat, sekali lagi tersesat
Tak tentu arah hingga kau lelah
Dalam dadamu yang terdalam
Ada sekam yang membara
Dalam diammu yang terdiam
Kau berdiri menyambut hujan
Ada badai dalam gerimis yang kau jelang
Tak hanya benci dalam setiap jurang yang kau gali
|